Kamis, 18 Januari 2018

Langit akan Selalu Menerima Senja

Januari 18, 2018 0 Comments

 (Story of Sore: Istri Masa Depan)

 Langit akan Selalu Menerima Senja

Pagi itu matahari bersinar amat cerah. Sinarnya seakan membangunkan Jo dari tidur lelapnya. Namun, saat Jo membuka mata, Ia pun terperenjak melihat sesosok wanita muda yang tidur di sebelahnya.

Jo kaget. Ia tidak habis pikir bagaimana wanita ini bisa masuk apertemennya. Sedangkan, kunci dari apertemen itu ada dalam saku bajunya.

“Kamu siapa? Kenapa kamu bisa ke sini?” Kata Jo.

“Hei, Jonathan. Aku Sore. Istrimu dari masa depan.” Dengan senyum manis khas Sore.

Masih dalam keadaan bingung. Jo langsung menelon sahabatnya. Dengan nada sedikit kesal, Ia menelpon Carlo—sahabatnya—dengan dengan sedikit memaki.

“Hey Carlo what are you doing?” tanya Jo sambil kesal.

“What do you mean. I’am working.” Jawab Carlo polos.

“Carlo. This is not fine. Kenapa kamu kirim wanita yang mengaku istriku dari masa depan.”  Tanya Jo lagi.

“What do you mean Jo?” jawab Carlo dengan bingung.

Jo yang sedikit kesal kemudian mematikan ponsel dan kembali kamar. Dengan masih dengan perasaan kesal, Jo pun bertanya pada Sore.

“Berapa banyak yang Carlo beri padamu? Aku akan berikan lebih.” Dengan nada bicara yang masih kesal.

Sore tak benar-benar menjawab apa yang ditanyakan Jo. Ia hanya memberi senyum manis sembari menggelengkan kepala ke kanan.

Merasa bingung. Jo pun salah tingkah. Ia tidak tahu dengan apa yang terjadi. Namun, Ia juga tidak dapat kembali kesal. Entah karena senyum manis Sore, atau karena dirinya tidak benar-benar berani membentak wanita.

Buru-buru. Jo pun menyampaikan bahwa dirinya akan pergi. Dia menawari Sore untuk tetap tinggal atau benar-benar pergi dari hidupnya.

“Aku mau pergi. Terserah kamu mau di sini atau nggak.” Ujar Jo.

Sembari bergegas, Jo pun mengenakan jaket dan beranjak meninggalkan kamar.

Namun,

“Jo… hape-nya gak dibawa?” Tanya Sore dengan nada manja.

Jo yang menyadari ponselnya tertinggal lantas kembali ke kamar dan mengambil ponsel tersebut.

“Humm… kamu tuh kebiasaan deh. Kalau buru-buru pasti lupa semuanya.” Terang Sore.

Jo yang telah mengambil ponsel dan jaket langsung keluar menuruni tangga kamar.

Namun,

“Jo… bye honey.” Ucapan Sore sembari tersenyum.


***


Jo. Sebagai seorang pria biasa merasa sedikit bingung dengan apa yang Ia alami pagi tadi. Kondisi diperparah dengan datangnya Sore pada pertemuannya dengan kekasihnya kala itu, Elsa.

Elsa adalah sosok yang sedikit mendominasi dalam hubungan. Ia senantiasa memaksa dan menyuruh Jo untuk mengikuti apa yang Ia mau.

Pada pertemuannya dengan Jo Elsa menyampaikan bahwa, Ia dan ayahnya akan pindah ke Spanyol  dan mengembangkan bisnis di sana. Ia juga memberi kabar bahwa Jo bisa datang menemui ayahnya jika ingin bergabung di perusahaan keluarganya tersebut.

Namun, tetiba perbincangan keduanya diganggu oleh kedatangan Sore.

Dengan sedikit cuek Sore mengambil sebuah bangku, meletakkannya di samping Jonathan, lalu mendudukinya.

“Sorry?” Tanya Alena.

“Hey. Sore. Jonathan’s Wife.” Jawab Sore singkat.

“Hey, kenapa kamu ke sini?” Tanya Jo.

“Lho. Ya terserah aku dong. Aku kan laper.” Jawab Sore singkat.

“Ya tapi kan banyak tempat lain.” Jawab Jo juga dengan kesal.

“Ya suka-suka aku dong. Aku yang laper kok.” Jawab Sore singkat.

Jo kemudian membuka dompetnya dan mengambil sedikit uang.

“Hey… aku gak butuh uang kamu. Udah simpen aja.” Ujar Sore.

“Ya tapi kamu pergi dong…” Suruh Jo.

“Ya orang aku mau makan di sini kok. Suka-suka aku lah.”

“Nanti bayarin yah?” Tutup Sore.

Elsa yang sedari tadi melihat keributan keduanya pun merasa terganggu. Ia bingung dengan kondisi yang dihadapi.

“Hey. Whats going on?” Tanya Alena bingung.

“Elsa…”

“Looking my eyes.” Sambung Sore memotong ucapan Jo yang terputus.

Ketiganya pun terdiam. Merasa asing dengan kondisi dan situasi yang sedang dihadapi.

“Kamu gak perlu bingung. Dia memang gitu. Suka ngomong gitu ke cewek. Ujungnya ya, paling ditinggalin, hehehe. Kecuali aku.” Ujar Sore.

Dengan kesal. Alena pun pergi meninggalkan keduanya.



To Be Contiued